Membangun Suatu Usaha

Perlukah Kekerasan Dalam Pendidikan

Karena kondisi didalam kelas sangat memengaruhi kondisi belajar mengajar yang dilakukan para peserta didik dan guru. Dapat dipahami bahwa tujuan dari hukuman dalam pendidikan Islam adalah untuk memperbaiki tabiat dan tingkah laku anak didik untuk mendidik anak ke arah kebaikan sehingga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan bertanggungjawab atas kesalahannya. Kebolehan menghukum bukan berarti pendidik dapat melakukan hukuman sekehendak hatinya, khususnya hukuman fisik, ada bagian anggota badan tertentu yang disarankan untuk dihindari dan anggota bagian mana yang diperbolehkan untuk dikenai hukuman fisik. Misalnya jangan memukul muka karena luka pada muka atau mata akan membekas atau menjadikan cacat pada wajah yang akan membuat anak minder.

Karena menurut saya ketenangan penting untuk menentukan sikap apa yang akan saya ambil. Saya akan memulai kelas dengan perkenalan siapa saya dan mengajukan beberapa pertanyaan umum tentang identitas siswa, hobi mereka, juga suka tidaknya mereka terhadap pelajaran yang saya ampu. Saya izin untuk menanggapi pak, jika saya di posisi tersebut yang saya rasakan tentu panik, takut, dan lainnya. Tapi saya akan berusaha meredam rasa dengan mengalihkan ke materi ajar yang akan saya sampaikan kepada murid-murid saya. Kemudian selanjutnya saya akan bertanya kepada guru-guru senior yang ada di sekolahan tersebut tentang bagaimana keadaan kelas yang saya akan dijadikan sebagai wali kelasnya.

Ketiga aspek ini dapat terwujud dengan baik jika seorang guru selama menjalankan tugasnya melakukan penilaian dengan baik. Rasulullah senantiasa memanfaatkan kesempatan yang sesuai atas hal yang hendak beliau ajarkan. Beliau berusaha memadukan antara kesesuaian momentum dan ilmu pengetahuan yang hendak diajarkan secara kondusif, dengan harapan agar lebih jelas dalam memberikan sebuah kepahaman keilmuan. Keberhasilan Nabi Muhammad noticed sebagai seorang pendidik dan pengajar, seharusnya umat Muslim khususnya umat Muslim di Indonesia dapat menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai widyaiswara / guru besar dalam membangun kualitas pendidikan.

Komunikasi adalah awal dari segalanya dan kita jadi bisa menganalisis dari jawaban yang diberikan siswa. Karena jawaban yang mereka berikan merupakan gambaran dari diri mereka sendiri. Kita akan dapat mengetahui anak mana yang aktif, mana yang tidak suka pelajaran, mana yang pemalu, dll. Selanjutnya terkait dengan keanekaragaman karakter serta keunikan, saya rasa guru perlu menghargai keanekaragaman tersebut serta mengajarkan pada siswa yang lain untuk dapat menerima hal tersebut. Karakter yang berbeda biasanya akan menghasilkan pola pikir yang berbeda, jadi saya berpikir perlu untuk saling mengingatkan dan menjaga komunikasi.

Mendidik junior, dan anak didik menjadi pribadi yuang lebih baik

Bahwa untuk menjadi sosok guru profesional yang perfect ala Ki Hajar Dewantara, maka guru harus selalu melakukan perubahan diri kepada yang lebih baik, guru harus menempatkan diri sebagai among atau pembimbing, penasehat, pendidik, pengajar, pemberi motivasi, rendah hati, penuntun, tegas dan terhormat. Disamping itu juga guru harus ikhlas dalam mendidik siswa dan mampu menguasai kompetensi keguruannya yaitu pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Gue mengerti sekali dan sangat menghargai dengan apa yang lu tulis disini. Dulu gue selalu berpikir kenapa orangtua selalu beranggapan bahwa yang terpenting adalah bisa jadi orang kaya dan memiliki pekerjaan yang berprospek. Sekitar tahun 2010, gue menemukan jawabannya dan jawabannya sama dengan apa yang lu tulis di artikel ini. Gue setuju banget bahwa pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan kapasitas dan potensi dalam diri sesorang, khususnya kapasitas dan potensi intelektual, supaya kita bisa menjadi apa yang kita mau.

Menurut informasi dalam situs resmi Girl Scouts of the USA, anggota pramuka dilatih untuk menjalin hubungan sehat, literasi keuangan, hidup sehat, serta berkontribusi melakukan perubahan positif masyarakat . Ciptakan suasana yang hangat, hubungan yang saling mendukung, iklim positif, dan pelibatan semua siswa di ruang kelas Anda. Jelaskan bahwa untuk menerima hak di kelas/sekolah, mereka harus mematuhi peraturan. Hak tersebut misalnya untuk berpartisipasi dalam acara sekolah, bergabung dalam ekskul, perjalanan study tour, pelajaran olahraga, kegiatan pentas seni, atau apa pun yang dianggap sesuai dan menarik oleh anak agar mereka tetap berusaha berbuat baik. Bertujuan untuk mengajar peserta didik untuk menggunakan komunikasi secara verbal maupun non-verbal seperti bahasa tubuh untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dan berinteraksi dengan orang lain.

Namun, apabila tidak mempan, barulah siswa perlu ditindak dengan tegas, yaitu memberikan sanksi/hukuman. Kalaupun memang hukuman harus diterapkan, pastikan hukuman tersebut tidak boleh menghilangkan hak siswa untuk belajar. Memberi hukuman keras seperti kekerasan yang menyakiti fisik dan psikis tentu tidak boleh dilakukan. [newline]Hukuman keras yang diberikan tidak akan memberi dampak positif, baik bagi guru maupun siswa. Memukul, mencubit, menjewer, bukan hukuman, namun sudah masuk ke dalam tindak kekerasan. Begitu pula dengan caci-maki atau bahkan pemberian julukan bernada negatif, tentu akan menyakiti perasaan dan mempermalukan siswa. Learning to stay together, yaitu pendidikan seharusnya memberikan bekal kemampuan untuk dapat hidup bersama dalam masyarakat yang majemuk sehingga tercipta kedamaian hidup dan sikap toleransi antar sesama manusia.

Sehingga ada hubungannya antara materi yang sebelumnya dengan materi yang sesudahnya. Hal tersebut menjadi tidak membingungkan peserta didik dalam memahami materi yang sangat banyak dari Rasulullah. Hal ini dapat dilakukan dalam DTSD I dan II di Pusdiklat Pajak kiranya dibuat ada kesinambungan dari semua Materi Utama yang dapat dijembatani dengan kasus tentang Perusahaan yang sama yang menjadi contoh pelatihan setiap materi. Bahwasnya Nabi Muhammad noticed mengecam pada seseorang yang memberikan atau memberitakan sesuatau yang tidak benar, yang tidak secara pasti ia ketahui tentang kebenarannya. Oleh karena pentingnya faktor ini, maka diaharapkan, bahkan diharuskan setiap widyaiswara / guru untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang kelak akan ditransfer kepada peserta didik. Sehingga terciptalah generasi yang berilmu yang akan tetap mewariskan dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan pada setiap generasi.